Pelatihan Pra-Nikah, Solusi Meminimalisir Perceraian
![]() |
foto : acara Nasyiatul 'aisyiah |
Pamulang,- Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah bekerjasama dengan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Professor Dr. Hamka telah melaksanakan Pelatihan Pra-nikah dengan tema “Menumbuhkan Potensi Keluarga Sakinah”. Kegiatan ini dilaksanakan di Komplek Pendidikan Muhammadiyah Pamulang, selama dua hari pada tanggal 25-26 April 2015.
Adapun sasaran dari kegiatan ini diharapkan peserta merupakan pasangan laki-laki dan perempuan yang akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat, akan tetapi peserta diluar kategori tersebut seperti pasangan yang telah menikah bahkan yang belum memiliki calon pasangan sama sekali (baca:jomblo) juga mengikuti kegiatan ini dengan antusias.
Pelatihan pra nikah disuguhi materi-materi berbobot dan sangat mengena dalam kehidupan berumah tangga, seperti : kedudukan pernikahan dan konsep keluarga dalam islam, psikologi perkawinan, kesehatan reproduksi, tumbuh kembang anak, pengelolaan keuangan keluarga, manajemen stress dan manajemen konflik serta problem solving.
Berikut yang disampaikan Rachma Nizami (PPNA) mengenai kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari ini, seperti biasa didahului oleh pembukaan dan laporan dilanjutkan dengan acara inti pelatihan diantaranya: Pembicara pertama Ibu Gusniarti menjelaskan tentang pengertian perkawinan, tujuan, fungsi keluarga, pemahaman nilai moral dalam keluarga melalui pendekatan Al Quran dan Sunnah, seperti yang tertera dalam Qs.30 : 21 “dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah menciptakan untuk mu isteri-isteri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikannya di antaramu rasa kasih sayang. Ibu gusniarti juga menjelaskan tentang tujuan perkawinan dalam islam yaitu membentuk keluarga sakinah (tenteram) mawaddah (perlindungan) rahmah (cinta kasih). Beliau juga menjelaskan delapan fungsi keluarga yang terdiri dari: fungsi agama, fungsi sosial budaya, fungsi cinta dan kasih sayang, fungsi perlindungan, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi & pendidikan, fungsi ekonomi & fungsi lingkungan.
Sedangkan pembicara ke dua ibu Anisia Kumala (psikolog), menyampaikan materi tentang psikologi perkawinan, yaitu apakah peserta yang merupakan pasangan calon pengantin betul-betul memahami konsep pernikahan, motivasi untuk menikah, dan lain-lain. Ibu Anisia juga mendefinisikan hubungan suami isteri menjadi tiga piramida cinta, secara akademis dikenal “sternberg triangle of love” yaitu komponen, intimacy (perasaan dekat untuk saling berbagi), passio (hasrat atau keinginan ketertarikan secara fisik yang kuat), commitment (perasaan tanpa cinta tetapi memiliki tanggung jawab yang besar dan keinginan untuk bersama selamanya). Pada sessi lainnya, ibu Anisia juga menjelaskan mengenai problematika rumah tangga, berikut penanganannya.
Untuk memecah kejenuhan kegiatan ini dilengkapi dengan aktifitas permainan yang mengandung unsur pendidikan serta simulasi yang terkait dengan materi. Dilanjutkan oleh Pembicara ketiga ibu Rita Pranawati memaparkan persoalan tumbuh kembang anak serta kesehatan reproduksi.
Sedangkan pembicara terakhir Ibu Elisa Kurnia Dewi (psikolog), memaparkan arti penting keterbukaan secara finansial dengan pasangan, karena ekonomi merupakan hal yang sangat sesitif dan masih ada yang mengaggap tabu. Sedangkan persoalan ekonomi justru hal yang harus dibicarakan secara transparan oleh pasangan suami isteri, apabila tidak maka akan menimbulkan konflik diakibatkan oleh kecurigaan atas penyalahgunaan keuangan keluarga oleh salah satu pihak, yang dapat menimbulkan perceraian. Mengingat angka tertinggi dari penyebab perceraian di dunia adalah faktor ekonomi. Peserta pelatihan pra nikah, diarahkan pada pemahaman konsep mengenai kebutuhan pokok setelah berumah tangga, kemudian diarahkan pada tujuan-tujuan yang ingin dicapai, rencana hidup masa depan sebuah keluarga, yang dimulai dengan rencana pengeluaran jangka pendek seperti pengeluaran rutin bulanan (listrik, makan sejari-hari, sewa/kredit rumah, dll), jangka menengah seperti biaya pendidikan semester, dll. Jangka panjang seperti persiapan hari raya, liburan tahunan, kelahiran, dll. Peserta juga diharapkan mampu membaca situasi ekonomi saat ini seperti naiknya harga harga bbm, tdl (tarif dasar listrik), bahan pokok, dll yang mempengaruhi keuangan keluarga. Juga memikirkan pentingnya kebutuhan mendesak seperti kecelakaan, rawat inap, meninggal, dll. Serta mengajak peserta untuk cedas berinvestasi guna persiapan hari tua, pendidikan anak, dll. Pengetahuan mengenai arti penting mengelola keuangan rumah tangga diharapkan agar pasangan suami isteri dapat dengan bijak, memilah mana kebutuhan pokok dan mana keinginan konsumtif semata dan terhindar dari sikap boros. Guna meningkatkan kesejahteraan keluarga dan memaksimalkan sumber dana yang terbatas. Kemudian peserta diharapkan dapat memperoleh manfaat dari pengetahuan ini, pembicara juga menjelaskan secara rinci mengenai pengalokasian anggaran, berdasarkan kelompok kebutuhan: seperti makanan, pakaian, rumah (kpr), listrik, transportasi atau kendaraan, komunikasi (telp & internet) air, partisipasi sosial (iuran keamanan dan kebersihan, tetangga sakit, menikah atau meninggal, dll) rekreasi, hutang kartu kredit, asuransi, arisan, investasi, dll. Pembicara mengajak peserta untuk dapat teliti dan bijak menggunakan keuangan rumah tangga dengan cara menghitung besarnya pemasukan kemudian dikurangi pengeluaran, sehingga dapat terlihat dengan jelas berapa besar kemampuan finansial sebuah keluarga, dan berapa besar kebutuhan yang dikeluarkan setiap bulannya.
Peserta sangat antusias mengikuti pelatihan ini, peserta mengakui bahwa materi-materi yang disampaikan sangat relevan untuk dipraktekan dalam rumah tangga, tidak mengabaikan kritik dan saran yang konstriktif peserta juga menyampaikan agar pelaksana kegiatan ini dapat menghadirkan dokter spesialis reproduksi. Sehingga diharapkan kegiatan yang dimaksudkan sebagai pilot project serta turunan dari rencana besar untuk pembuatan Klinik Konsultasi Keluarga Nasyiatul Aisyiyah dapat terlaksana, berlangsung konsisten dan berkesinambungan.
Mudah-mudahan setelah kami melaksanakan pelatihan ini dapat meminimalisir angka perceraian di indonesia yang menjadi trend tiap tahunnya semakin meningkat. Maka kita harus menularkan Ilmu yang kita dapat agar cita-cita keluarga harmonis dapat terwujud, pungkasnya.
sumber : http://nasyiah.or.id/nasyiahpusat/