Agar Puasa kita berkah dalam bulan Ramadhan
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakaatuh,
الْحَمْدُ
لِلَّهِ الَّذِي
هَدَانَا لِهَذَا
وَمَا كُنَّا
لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا
أَنْ هَدَانَا
اللَّهُ لَقَدْ
جَاءَتْ رُسُلُ
رَبِّنَا بِالْحَقِّ
وَنُودُوا أَنْ
تِلْكُمُ الْجَنَّةُ
أُورِثْتُمُوهَا بِمَا
كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلهَ إِلاّ
اللهُ وَأَشْهَدُ
أَنّ مُحَمّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ
صَلّ وَسَلّمْ
عَلى مُحَمّدٍ
وَعَلى آلِهِ
وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ
تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ
الدّيْن، أَمَّا
بَعْدُ
Kaum muslimin yang berbahagia,
Sumber terbesar kegagalan puasa yang kita lakukan
adalah dosa dan maksiat.
Seperti yang kita ketahui, dosa merupakan sebab
pahala yang kita miliki berguguran. Ketika ramadhan kita penuh dengan dosa,
puasa kita menjadi sangat tidak bermutu. Bahkan sampai Allah tidak butuh dengan
ibadah puasa yang kita kerjakan.
Semacam inilah yang pernah diingatkan Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis shahih riwayat Bukhari dan yang
lainnya, dari sahabat Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, bahwa beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ
لَمْ يَدَعْ
قَوْلَ الزُّورِ
وَالْعَمَلَ بِهِ
فَلَيْسَ لِلَّهِ
حَاجَةٌ فِى
أَنْ يَدَعَ
طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Siapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta, dan
semua perbuatan dosa, maka Allah tidak butuh dengan amalnya (berupa)
meninggalkan makanan dan minumannya (puasanya).”
Yang dimaksud “qauluz zur” adalah semua ucapan
dusta, kebatilan, perkataan haram, dan yang menyimpang dari kebenaran.
Sedangkan maksud “al-Amal bihi” adalah semua perbuatan yang dilarang oleh
Allah. Demikian keterangan al-Hafidz al-Aini dalam Umdatul Qori (10/276).
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Allah menyebut setiap perbuatan maksiat yang kita
lakukan sebagai tindakan kebodohan.
Karena yang namanya orang pinter, dia tidak akan
melakukan perbuatan yang merugikan dirinya. kita bisa perhatikan, apa manfaat
dari maksiat? Tidak ada, selain memuaskan nafsu.
Allah berfirman di surat an-Nisa ayat 17,
إِنَّمَا
التَّوْبَةُ عَلَى
اللَّهِ لِلَّذِينَ
يَعْمَلُونَ السُّوءَ
بِجَهَالَةٍ ثُمَّ
يَتُوبُونَ مِنْ
قَرِيبٍ فَأُولَئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ
عَلَيْهِمْ وَكَانَ
اللَّهُ عَلِيمًا
حَكِيمًا
Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat
bagi orang-orang yang mengerjakan maksiat karena kebodohan, yang kemudian
mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah
taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Ketika menafsirkan ayat ini, Imam Mujahid – ulama
tabiin murid senior sahabat Ibnu Abbas – beliau mengatakan,
كُلُّ
مَنْ عَصَى
اللهَ فهو
جاهل حتى
ينزع عن
الذنب
Semua orang yang bermaksiat kepada Allah maka dia
orang bodoh.
Keterangan beliau ini disebutkan Ibnu Katsir dalam
tafsirnya.
Dan manusia, ketika semakin sering bertindak bodoh,
dia semakin hina derajatnya. Karena itulah, ulama menyebut orang yang
bermaksiat, sebagai orang yang membuat hina dirinya.
Imam Yahya bin Abi Katsir – salah seorang ulama
tabiin – pernah mengatakan,
مَا
أكْرَمَ العِبَادُ
أَنْـفُسَهُم بِـمِثْلِ
طَاعَةِ اللهِ
وَلَا أَهَانَ
العِبَادُ أَنْفُسَهُم بِـمِثْلِ مَعْصِيَةِ
اللهِ
Tidak ada perbuatan yang membuat seorang hamba
semakin memuliakan dirinya selain ketaatan kepada Allah. Dan tidak ada amalan
yang membuat hamba semakin menghinakan dirinya selain maksiat kepada Allah.
Keterangan beliau disebutkan Ibnu Abid Dunya dalam
kitabnya Muhasabatun Nafs.
Jama’ah sholat shubuh yang dimuliakan alloh,
Saat ini kita hidup di zaman yang penuh dengan
aurat.. dan barangkali, inilah sebab terbesar manusia bermaksiat. Hanya keluar
5 menit di keramaian, mungkin kita sudah bisa mendapatkan ratusan aurat dengan
keaneka ragaman warna dan rasa.
Dan itu semua terjadi ketika kita keluar rumah.
Belum lagi dosa dengan sebab tidak bisa menjaga lisan, karena menggunjing orang
lain.
Karena itulah jama’ah rahimatumullah,
kita bisa terhindar dari banyak maksiat ketika di
dalam rumah. Berbeda ketika keluar rumah, berjuta peluang maksiat menanti anda…
baik anda yang menjadi sebab dosa atau korban dosa..
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan akan
bahaya zaman fitnah. Ketika sahabat bertanya, apa yang harus kami lakukan?
Jawab beliau,
كُونُوا
أَحْلَاسَ بُيُوتِكُمْ
Jadilah manusia yang selalu menetap di rumah..
(HR. Ahmad 19662, Abu Daud 4264, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).
Sebaliknya, di rumah, kita bisa banyak beribadah.
Membaca al-Quran, shalat sunah, dst. Jadikan rumah kita layaknya kuil, tempat
untuk mendulang pahala.
Sahabat Abu Darda’ pernah berpesan,
نِعْمَ
صَوْمَعَةُ الرَّجُلِ
بَيْتُهُ ،
يَحْفَظُ فِيهَا
لِسَانَهُ وَبَصَرَهُ
Sebaik-baik kuil (tempat ibadah) bagi seseorang
adalah rumahnya. Di dalam rumah, dia bisa menjaga lisan, dan pandangannya. (HR.
Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf 35738, Az-Zuhd Imam Ahmad, 1/135).
Nah, Tentu saja ini tidak berlaku untuk ibadah dan
kewajiban yang harus dilakukan di luar rumah. Seperti bekerja, shalat jamaah,
kajian, dst.
Disisi lain, bulan ramadhan bisa kita jadikan
sebagai wahana untuk belajar,yang dimana bisa mulai dari anak kecil hingga
orang dewasa, kenapa bisa dikatakan wahana, karena dalam bulan ini kita bisa
belajar dan memperbaiki diri, seperti kedisiplinan,kesabaran, bersosial dsb.
Disiplin bisa kita contohkan saat kita mulai
berpuasa mulai subuh hingga waktu berbuka, disitu kita diajarkan untuk disiplin
waktu,dan belajar untuk tepat waktu .
Kesabaran, sebenarnya bisa kita lakukan setiap hari,
tetapi pada bulan inilah kita juga mendapatkan ujian dari kesabaran, seperti
sabar dengan menahan makan minum, emosi kita, marah kita, segalanya diuji pada
bulan ini oleh Alloh SWT.
Bersosial, bersosial bisa diajarkan mulai bagi yang
masih memiliki putra putri yang masih kecil, seperti apa, yaitu dengan berinfaq
saat tarawih, maupun yang lain, sehingga jiwa sosial bisa tertanam kepada putra
putri kita.
Nah jika dalam bulan ini kita berharap agar ramadhan
ini membawa manfaat dan keberkahan, maka pertahankan apa yang tlah kita lakukan
pada bulan ini dan kita lanjutkan pada bulan-bulan berikutnya, insya alloh
puasa kita, amal kita tidak sia-sia.
Kita memohon kepada Allah, semoga Allah memperbaiki
lahir batin kita dan menjauhkan kita dari keburukan hati dan amal kita. Karena
hanya dengan pertolongan-Nya, kita bisa selamat dari semua fitnah dunia.
يَاحَيُّ
يَاقَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ نَسْتَغِيثُ أَصْلِحْ
لَنَا شَأْنـَنَا
كُلَّهُ وَلَا
تَكِلْنَا اِلَى
أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ
عَينٍ
Ya Hayyu ya Qayyum, dengan rahmat-Mu kami memohon,
perbaikilah semua urusan kami dan jangan Engkau pasrahkan kepada diri kami,
sekejap matapun.
Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala
aalihi wa shahbihii ajma’in