Pantaskah kita disebut kader?

Dalam setiap untaian peristiwa maupun berbagai kejadian yang kita lewati saat berjuang dijalan-Nya melalui sebuah organisasi, banyak hal yang perlu kita pelajari dan banyak pula hal yang perlu kita perhatikan, pada waktu para pendiri bersusah payah untuk memegang teguh ajaran islam yang sesungguhnya, kini mungkin para pendiri tersebut sedang menangis jikalau melihat keadaan saat ini, kaum - kaum awam yang tidak mengerti akan apa itu gerakan pencerahan dan apa itu menjadikan masyarakat islam yang sebenar-benarnya yang hanya menggerogoti organsasi ini, mengambil getah dan membuang kulitnya, sebagian besar orang yang bersikukuh menyuarakan bahwa dirinya berbeda tetapi senyatanya hanyalah diam tak berkutik, kepada anak anak kita mengajarkan untuk berbuat kebaikan, tetapi dibelakang itu kita saling menjatuhkan diantara petinggi-petinggi kita.
Malukah jika mereka mengetahui bahwa petinggi - petinggi mereka sebenarnya buruk, jika ada salah satu diantara banyak orang mengetahui dan hanya diam yang menyuarakan saya kader-saya kader, lantas apa yang sudah engkau berikan kepada masyarakat? apakah hanya sebatas untuk mencari kedudukan atau untuk menghidupi keluarga. padahal para pendiri sudah berpesan, hidup-hidupilah jangan mencari hidup didalamnya.
Dari semua itu, pantaskah kita disebut seorang kader? kader sejati yang kita suarakan yang kita banggakan? hanya untuk membesarkan namakah? banyak yang menyampaikan pesan kepada semua Kader Muda Muhammadiyah khususnya IPM agar mampu menjadi kader yang benar-benar ‘kader sejati’. Maksudnya adalah tidak semata karena menjadi warga muhammadiyah sejak kecil maka men-cap dirinya menjadi kader sejati muhammadiyah. Dengan berbekal tumpukan sertifikat bukti mengikuti darul arqom, maupun berbagai kegiatan perkaderan Muhammadiyah. Namun kader sejati ditunjukkan dengan lebih mengutamakan kegunaan dirinya untuk persyarikatan. Ini membuat kita teringat kembali terhadap pernyataan KHA. Dahlan, “Yang terpenting bukan siapa kita, tetapi bagaimana kita berguna untuk umat.”(Rektor UMM, Bpk. Muhadjir Effendi, MAP). 
Dari pesan - pesan para pendahulu dan dengan mempelajari sejarah,sudahkah kita "MIKIR" untuk apa kita berorganisasi, bukankah untuk berdakwah? organisasi ini sangatlah berjasa bagi pelosok negeri, ilmu juga banyak yang kita dapat darinya, kita tinggal berdakwah melanjutkan dakwah Nabi,dan menjadi kader umat yaitu melalui dan menjadi kader Persyarikatan Muhammadiyah.
(Mushlih Nurwahid)

Postingan populer dari blog ini

Pelatihan Pra-Nikah, Solusi Meminimalisir Perceraian

Ciri Khas, Prinsip Dasar dan Metode Pendidikan Hizbul Wathan

Mengenal Lebih Dekat Fahmi Salim, Master Filsafat Hermeneutika Al Qur'an